Tuesday, March 10, 2009
Built Your SS XC Rig!

Biar nggak main sendirian, tentunya aku pengin menularkan virus singlespeed XC ke semua orang, dong. Nggak ada yang ngalahin sensasinya saat berhasil melewati trek hanya dengan satu gir; hanya ada Anda, trek yang Anda lewati, dan satu rasio gir pilihan Anda. Macho banget. Di saat yang sama, muncul rasa girang yang sama kayak waktu Anda pertama kali bisa naik sepeda di lapangan bola, waktu Anda masih kecil...
Tapi jangan buru-buru ciut. Singlespeed bukan hal eksklusif, bukan... Anda nggak harus berbetis kotak kayak sepatu Yongki Komaladi, enggak. Singlespeed itu mudah, simpel, dan untuk semua orang!
Yah, memang, kadang kita harus nuntun sepeda saat menghadapi tanjakan panjang... tapi hei, ngapain malu? Toh ada yang bisa dijadikan kambing hitam, "Kan gua nggak bisa shifting..." Dan kalopun ternyata kita bisa mengatasi tanjakan panjang itu hanya dengan murni satu gir dan power dari betis dan paha, kebayang kan, perasaan jumawanya? Hehehe.
Cuma perlu diingat, karena dasar dari membangun SS XC rig adalah pure [cheap yet exhausting] fun, maka sebelumnya aku ingatkan dulu: kalo memang cuma punya satu sepeda XC, mending pikir-pikir lagi, deh. SS XC memang fun dan murah, tapi bukan untuk segala medan dan kesempatan. Yah, perlu diakui, kadang kita memang perlu harus cepat sampai di satu tempat dalam waktu singkat, jadi memang perlu ngebut. Atau kadang ada trek yang saking teknikalnya, sehingga jauh lebih baik bila dilalui dengan variasi rasio gir yang lebar. Ya, di sini ini, sepeda dengan 3x9 (atau 10) speed meraja... lagipula, kalo memang singlespeed itu sesuai untuk segala suasana, ngapain Campagnolo sampe bikin drivetrain 2x11 speed?
Jadi gimana? Ya udah, sekarang coba lirak-lirik sekitar. Ada nggak, sepeda yang udah lama nganggur, tapi masih memungkinkan dipake XC? Bisa jadi Federal tua hadiah lulusan SD yang dulu kegedean, tapi sekarang Anda malu make karena takut dianggap nggak up-to-date. Atau sepeda yang dulu niatnya biar dipake Mang Jaman buat operasionalnya beli bahan bangunan, tapi Mang Jamannya sendiri udah nikah di kampung dan nggak balik-balik. Atau frame pemberian mantan pacar, yang terlanjur putus sebelum itu frame dirakit. Atau hardtail yang Anda beliin buat istri, tapi dia ternyata malah lebih suka pake sepeda lipet. Yaaaah, yang kayak gitu-gitu itu, lah.
Udah nemu?
Ayo kita ngobrol lebih lanjut!

Dasar dari sepeda SS XC yang bagus sebenernya simpel: frame yang bagus, komponen yang efisien, dan handlebar yang cukup lebar. Oh iya, sama pengereman. Lebih lanjut, mari kita breakdown sebagai berikut:

1. Frame
Ya iya lah, kita butuh frame. Kalo nggak ada, di mana kita mau pasang komponen?
Pada dasarnya, semua frame bisa dipake buat SS. Bahkan frame full suspension sekalipun. Masalah ketegangan rantai yang berubah-ubah di frame fullsus saat suspensi belakangnya bekerja, bisa diatasi via chain tensioner. Cuma memang, karena ada efek bobbing yang lumayan mengurangi pedalling efficiency, banyak yang melewatkan opsi ini dan langsung pilih frame hardtail. Lagipula, gimanapun juga, hardtail lebih murah...
Lalu soal suspensi. Untuk commuting use, aku lebih sreg dengan fork rigid, karena kadang fork juga bobbing saat kita pedalling sambil berdiri. Fork rigid membuat transfer tenaga saat pedalling lebih efisien, di samping itu fork yang travel-nya nol ini juga lebih ringan. Tapi ya, jujur aja, untuk XC use lebih baik pake fork suspensi, berkaitan dengan kemudahan handling dan kenyamanan.
Apapun frame yang Anda pilih, perhatikan rear dropout-nya, atau dudukan roda belakangnya. Kalo Anda punya frame dengan semi-horizontal dropout, kayak yang biasa ditemui di frame-frame lama kayak Federal dan sejenisnya, maka selamat, Anda lolos dari satu masalah. Ketegangan rantai bisa diatur dari posisi as roda: kalo kurang tegang geser posisi as ke belakang, begitu pula sebaliknya.

Begitu juga dengan frame yang punya full horizontal dropout/track-end style dropout, kayak beberapa frame macam Spank. Yah, yang kayak gini ini:

Atau ternyata Anda cukup beruntung punya frame dengan adjustable rear dropout, macam Kona Explosif (dan beberapa frame DJ kayak KHS DJ300 atau Polygon DX). Yang ini sebenernya vertical dropout, tapi dudukannya di frame bisa digeser maju mundur juga.


Masalah akan timbul kalo ternyata Anda punya frame "jaman sekarang" yang dropout-nya vertikal, udah gitu statis alias nggak bisa digeser-geser.

Solusinya? Banyak! Pertama, yang paling murah, adalah eksperimen mencari "Magic Gearing".
Banyak peminat SS (termasuk aku) yang berangkat menuju per-SS-an via cassette yang "diceraiberaikan". Tips menceraiberaikan cassette udah pernah kubahas, kok. Dengan kepingan cog lepasan cassette dan beberapa utas rantai yang berbeda tingkat keausannya, silakan bereksperimen mencari rasio yang ketegangan rantainya pas, tanpa tensioner. Contoh kasusnya, di sepeda ijo kontroversialku, akhirnya rasio yang pas adalah 32/14T, dengan bantuan rantai 8-speed yang udah agak mulur sehingga ketegangan rantainya pas. Kok ya kebetulan rasio itu buatku nggak terlalu enteng buat trek datar pas commuting, dan nggak terlalu berat buat nanjak.

Lha kalo ternyata rasio hasil eksperimen itu ternyata dirasa terlalu berat atau terlalu enteng digowes?
Solusinya terbagi dua. Yang murah, biasakan pake rasio yang terlalu berat atau terlalu enteng itu, hehehe. Kalo ini nggak bisa, berarti kita maju ke solusi berikutnya... pake chain tensioner.
Chain tensioner akan kita bahas di bab berikutnya...

2. Drivetrain
Langsung bahas tensioner? Nggak, ntar dulu. Sabaaar.
Drivetrain buat SS relatif simpel dan nggak butuh komponen khusus, kecuali cassette adaptor, freehub/rear hub khusus singlespeed (kalo ada budget), dan chain tensioner itu sendiri.
Untuk crankset, sebenernya semua crankset bisa dipake. Baik crankset MTB biasa, bahkan crankset roadbike sekalipun. Intinya, sisakan chainring yang Anda mau pake (biasanya sih chainring tengah, yang besarnya antara 32-39T, tergantung crankset-nya), lalu lepas sisanya.
Mungkin perlu ada akal-akalan untuk pasang chainring bolt, karena aslinya kan chainring bolt itu dirancang untuk megangin dua chainring. Kalo terpaksa dipake untuk megangin satu chainring, cara ngatasinya adalah dengan membalik pemasangannya, atau pasang ring buat ganjal, atau pasang bashguard sekalian.
Ini contohnya kalo chainring nut-nya dibalik.

Pertimbangkan untuk pake crankset outboard bearing. Bobot totalnya yang lebih ringan dibanding crankset dengan BB cartridge bearing, sangat membantu menurunkan bobot total sepeda. Di samping itu as/spindle-nya cukup stiff menahan torsi berlebih saat terpaksa harus pedalling berdiri.

Itu di depan. Di belakang (sektor yang berhubungan langsung dengan roda belakang, makdusnya), pilihannya ada dua: antara pake satu cog yang terpasang di hub multispeed biasa dengan bantuan spacer atau adaptor, atau pake hub khusus singlespeed.
Pilihan pertama memang lebih murah. Kumpulkan aja spacer bekas copotan dari cassette, atau bikin sendiri dari pipa PVC. Atau beli dari ride-buddies.com, atau dari Om Bonny Osborn.
Apapun pilihannya, yang perlu diperhatikan adalah chainline. Kelurusan antara chainring depan dengan cog belakang. Hal ini berkaitan dengan efisiensi drivetrain, dan kalo Anda menggunakan cog copotan dari cassette, berkaitan dengan seberapa sering Anda mengalami copot rantai. Chainline yang benar-benar lurus, mengurangi kemungkinan copot rantai karena rantai murni bekerja dalam garis lurus dan tak ada gaya ke samping.

Kalo Anda pake singlespeed adaptor atau spacer lepasan, mengatur chainline ini sangat gampang. Pindah-pindahkan aja tumpukan spacer atau adaptor-nya, sampe rantai terlihat lurus. Walaupun ada juga singlespeed adaptor yang nggak bisa digeser-geser chainline-nya, tapi seenggaknya posisi miringnya chainline di adaptor model begini nggak terlalu ekstrem. Atau kalo Anda pake singlespeed adaptor yang nggak bisa digeser-geser chainline-nya, gunakan aja cog khusus singlespeed yang bisa dipasangkan dengan rantai 3/32" yang digunakan sistem multispeed, macam Shimano DX.
Penggunaan chain tensioner juga membantu menjaga ketegangan rantai, terutama pada frame-frame "kurang beruntung" yang kusebut di atas, atau pada frame fullsus.
Chain tensioner sendiri banyak macamnya. Ada yang bekerja berdasarkan spring tension kayak pulley cage pada RD, ada juga yang statis alias nggak ngeper. Ada yang satu pulley, ada juga yang dua pulley macam Shimano Alfine. Ada yang harganya mahal, ada juga yang bikinan sendiri.
Dan ada juga yang memanfaatkan RD bekas.
Kalo aplikasinya, yang spring tensioned memang lebih fleksibel pas kena guncangan, memudahkan dalam bongkar pasang roda belakang, serta nggak "rewel" kalo chainline kita nggak sempurna-sempurna amat. Kekurangannya, lebih berisik. Sedangkan yang statis membuat ketegangan rantai tetap konstan dalam berbagai kondisi, cuma harus agak teliti dalam ngeset chainline-nya, atau rantai bisa copot saat kena guncangan.
Males pake tensioner, karena tampangnya jadi nggak simpel? Ada cara lain, pake rantai halflink.

Rantai halflink ini adalah rantai yang bisa diputus sambung di tiap mata, nggak kayak rantai biasa yang diputus sambungnya tiap dua mata.
Nggak murah, sih. Tapi ya memang cakep.
Penggunaan hub belakang khusus singlespeed memang lebih mahal. Udah gitu, penggunaannya ya terbatas untuk SS doang. Kalo kasusku, wheelset SS di sepeda ijo itu bisa dengan mudah dipake Federal-ku yang 8-speed dan pake v-brake (soalnya rims EN24-nya kan v-brake compatible) atau dipasang di Patrol yang 9-speed dan pake discbrake (soalnya hub-nya pake Deore centerlock). Tapi hub belakang khusus singlespeed biasanya memiliki jarak antar flange (bagian "pinggul" yang ada lubang-lubang jari-jarinya) yang lebih lebar, sehingga mengurangi "dishing" (bahasa bengkelnya, "mayung"). Bahasa singkatnya, jari-jari kiri dan kanan terpasang pada sudut yang hampir sama (dilihat dari depan/belakang wheelset, bukan dari samping), sehingga wheelset jadi lebih rigid dan nggak rawan peyang. Pada wheelset multispeed, biasanya jari-jari yang sebelah kanan (di belakang cassette) akan terpasang lebih tegak dibanding yang di sebelah kiri (di belakang rotor). Efeknya, pada wheelset belakang multispeed jari-jari sebelah kanan akan lebih tegang dibanding yang sebelah kiri, sehingga mengurangi rigiditas.

3. Pengereman
Percaya apa enggak, begitu pake singlespeed, ada kebiasaan yang jadi jarang dilakukan. Ngerem! Terutama pas commuting. Ya itu, bukan apa-apa, dengan ngerem kita bakal kehilangan momentum atau ritme pedalling, padahal ini adalah elemen utama dalam ber-singlespeed.
Kalo buatku, dampak dari males ngerem ini adalah aku jadi makin jeli pilih "racing line". Halah. Jalur, maksudnya. Setelah ambil celah antara dua mobil ini, celah mana lagi yang bisa dilewati, kalo-kalo metromini di depan tiba-tiba ngerem. Begitu seterusnya. Nah, teknik yang sama bisa diterapkan juga di trek XC. Intinya, cari jalur yang paling mudah dilalui dan nggak ngerusak ritme pedalling atau menghilangkan momentum. Hitung-hitung jadi mengasah teknik, hehehe.
Kadang ada yang bilang, "Ranggapanji itu kalo pake SS malah lebih ngebut." Ya, enggak juga, sih. Bukannya lebih ngebut, cuma lebih males ngerem aja...
Nah, kemalasan untuk ngerem ini justru malah mengisyaratkan sistem pengereman yang prima. Ya iya, pertamanya kan males ngerem. Selanjutnya, ketika harus bener-bener ngerem, laju sepeda udah terlanjur kenceng... jadi sistem pengereman bagus adalah hal yang nggak bisa ditawar.
Untuk XC, lebih baik memang pake discbrake. Ini kalo ada lho, ya. Dan bukan berarti rim brake/v-brake nggak bisa dipake. Bisa aja, kan malah lebih ringan dan lebih murah. Yang penting, selalu lakukan penyetelan supaya v-brake Anda tetep optimal.
Oh iya, untuk frame-frame dengan semi horizontal atau full horizontal dropout, selalu lakukan penyetelan posisi kaliper discbrake/brakepad v-brake setelah menggeser posisi roda belakang untuk mengatur ketegangan rantai, untuk menjaga posisi brakepad terhadap rotor/rim sidewall.

4. Handlebar yang lebih lebar
Ber-singlespeed-ria, kadang mensyaratkan kita untuk pedalling sambil berdiri. Kadang sepeda sampai harus dimiringkan ekstrem ke kanan dan ke kiri. Handlebar yang lebih lebar akan membantu leverage dan handling saat harus pedalling kayak begini. Pilih handlebar yang sudut sweep-nya pas dan nyaman. Contoh kasus, untuk multispeed-ku, aku cuma pake risebar 620mm, dan yang terpasang di SS rig-ku adalah risebar 660mm.
Oh iya, lupa disebutin di atas. Soal pedal! Sebenernya nggak ada syarat khusus, pake aja yang biasa Anda pake. Tapi penggunaan clipless pedal akan meningkatkan efisiensi pedalling, karena dengan clipless pedal Anda bisa memanfaatkan semua otot kaki Anda saat ngegowes, nggak cuma otot paha atau otot betis aja.

Wew. Panjang lebar dan membingungkan? Enggak juga, sih. Kesimpulannya sih gampang: beli singlespeed adaptor (dan tensioner, kalo perlu), copotin FD+RD+shifter+kabelnya dan sisain satu chainring dan cog, sesuaikan panjang rantai dan chainline-nya, and join the bandwagon!

Posted at 09:22 pm by ranggapanji

metrix
January 5, 2011   09:10 PM PST
 
kalo butuk rantai halflink, nyarinya dimana mas? harganya kisaran berapa ya?
saya ada di daerah solo,
tx. (metrix.tita@gmail.com)
Name
December 18, 2009   07:01 AM PST
 
om saya lagi coba untuk merakit fixie. Saya ada kendala dengan hub belakang, sampai saat ini saya belum dapat menemukannya. Mohon informasinya hub aoa yang bisa dijadikan SS. Bisa minta no telp yang bisa dihubungi untuk bertanya tanya. Thx. Berry (berz73@hotmail.com)
oka
September 24, 2009   10:22 AM PDT
 
it's me again.kalau tidak keberatan, minta tolong emailkan saya nomer tlp bengkel yang bisa membantu membuat fixie/single speed.tx oka_tripam@yahoo.com
oka
September 24, 2009   10:20 AM PDT
 
mas, terimaksih sudah berbagi ilmunya.dari dulu saya ingin sekali punya sepeda single speed/fixie. kira2 butuh biaya berapa untuk merakitnya? ada bengkel khusus ga? atau saya hrs kerjain sendiri? boleh minta nomer tlp yang bisa dihub jika ingin bertanya2. tx alot. oka
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Home

Blogdrive